contact@labmedio.co.id 021 22229988
March 01, 2022 - OLEH Admin

Indonesia Perlu Contoh AS dan China dalam Kendalikan Polusi Udara

Jakarta - Penanganan polusi udara di Indonesia, memerlukan perhatian serius setelah beberapa waktu lalu Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan kasus polusi udara dengan mengabulkan sebagian gugatan para penggugat kepada pemerintah pusat dan Provini DKI.


Ketua Majelis Hakim Saifuddin Zuhri, menyatakan menghukum pemerintah untuk menetapkan baku mutu udara ambien nasional yang cukup untuk melingungi kesehatan manusia, lingkungan dan ekosistem, termasuk kesehatan populasi yang sensitif berdasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 


Berdasarkan data terbaru Air Quuality Life Index (AQLI), sebuah lembaga nirlaba dari University of Chicago, saat ini lebih dari 93 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah dengan tingkat Particulate Matter (PM) 2.5 rata-rata tahunan yang melebihi ambang batas pedoman WHO.


Direktur AQLI Ken Lee mengatakan, pemerintah Indonesia bisa mencontoh apa yang pernah dilakukan Amerika Serikat (AS) pada tahun 1960-an, ketika Los Angeles dikenal luas di seluruh dunia sebagai ibu kota kabut asap.


"Waktu itu, ada kesadaran polusi udara telah muncul, dan orang-orang mulai menuntut perubahan. Pada tahun1970, jutaan orang di seluruh AS akhirnya berbaris untuk menuntut lingkungan yang bersih. Itu adalah Hari Bumi Pertama di dunia," kata Ken dalam video yang diunggah akun Instagram Bicara Udara, Senin (27/9/2021).


Selain AS, China Mampu Mengatasi Masalah Polusi Udara

Kongres AS kemudian meloloskan pembaharuan penting untuk Undang-Undang mengenai udara bersih AS, dan ini adalah aturan yang pada dasarnya menetepkan seperangkat standara kualidas udara baru. Lalu sejak tahun 1970, di AS terjadi transformasi dan peningkatan dalam hal kualitas udara.


"Tingkat kualitas udara di seluruh negara bagian telah menurun secara substansial antara tahun 1970 dan hari ini, di Los Angeles, penurunan ini kira-kira 60% dan hasilnya adalah orang-orang di wilayah tersebut hidup lebih lama dan lebih sehar," terangnya.


Ia juga mencontohkan yang dilakukan oleh pemerintah China. Pada awal 2000-an, China dianggap salah satu negara paling tercemar di dunia. Lalu tahun 2021, China mengalami beberapa hari dengan kualitas udara terburuk dalam sejarah modernnya dengan rata-rata konsentreasi PM 2.5 di Beijing adalah sekitar 69 mikrogram per meter kubik, mirip dengan tingkat udara Jakarta saat ini.


"Sebagai tanggapan atas meningkatnya kekhawatiran publik tertang polusi udara, pemerintah China menyatakan perang terhadap polusi pada awal 2014 dan mereka akhirnya mengalokasikan ratusan miliar dollar untuk mengatasi masalah tersebut. Mereka menetapkan target pengurangan yang tinggi untuk wilayah sasaran," jelasnya.


Di Masa Pandemi Kesehatan Menjadi Masalah Yang Penting

Pandemi Covid-19 turut membawa kesehatan masyarakat menjadi masalah penting. Dikatakan oleh Ken, saat ini publik Indonesia sangat responsif terhadap informasi baru tentang dampak bahaya polusi udara.


Ini menjadi waktu yang tepat bagi pemerintah untuk lebih perhatian terhadap pengendalian polusi udara.


"Polusi udara adalah masalah yang bisa kita selesaikan. Ketika orang menjadi sadar, mereka mulai menuntut perubahan. Dan jika respons pemerintah dengan langkah-langkah kebijakan yang kuat dan tepat, tingkat polusi udara pada akhirnya akan turun," tambah Ken.




Sumber:

Polusi-udara-Jakarta.-ist.jpg (676×450) (asiatoday.id)

Indonesia Perlu Contoh AS dan China dalam Kendalikan Polusi Udara - Citizen6 Liputan6.com